Pusva's Blog

Just another WordPress.com weblog

on February 12, 2010

BAB  I

PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang

Dysmenorrhoe merupakan salah satu keluhan ginekologi yang paling umum pada wanita muda dalam masa menstruasi yang datang ke dokter (Anurogo, 2008) sedangkan menurut dokter Rahayu (2009) dysmenorrhoe merupakan keluhan yang paling sering menyebabkan para wanita muda pergi ke dokter untuk melakukan konsultasi dikarenakan nyeri yang dirasakannya. Wanita yang mengalami dysmenorrhoe mengalami gangguan dalam melakukan kegiatan sehari-hari oleh karena nyeri yang dirasakan.

Nyeri haid primer kebanyakan dialami sekitar 60-75% wanita muda dengan maksimal usia 15-25 tahun, sedangkan nyeri haid sekunder jarang dialami sebelum usia 25 tahun (Sarwono, 2007 : 229). Angka kejadian dysmenorrhoe tipe primer di Indonesia adalah sekitar 54,89% sedangkan sisanya adalah penderita dengan tipe sekunder (Anita, 2007). Di Surabaya didapatkan 1,07% hingga 1,31% dari jumlah penderita yang datang ke bagian kebidanan karena nyeri haid (Riyanto, 2009). Di Kabupaten Ngawi belum ada data yang mencatat mengenai wanita yang mengalami dysmenorrhoe. Data yang diperoleh dari 10 remaja putri di AKPER yang menstruasi 7 diantaranya mengalami nyeri haid (dysmenorrhoe) sedangkan 3 diantaranya tidak mengalami dysmenorrhoe.

Nyeri pada dysmenorrhoe primer diduga berasal dari kontraksi rahim yang dirangsang oleh prostaglandin. Nyeri dirasakan semakin hebat ketika bekuan atau potongan jaringan dari lapisan rahim melewati cervix uteri (leher rahim). Faktor yang memperburuk dysmenorrhoe antara lain ; rahim yang retroflexi, kurang berolah raga, stres psikis (Mansjoer, 2000 : 372-373).

Akibat dari kejadian dysmenorrhoe berdasarkan penelitian di Swedia, tercatat 80% remaja usia 19-21 tahun mengalami nyeri haid, 15% membatasi aktivitas harian ketika haid, dan membutuhkan obat-obat penangkal nyeri, 8-10% tidak mengikuti atau masuk sekolah/kuliah dan hampir 40% memerlukan pengobatan medis (Biben, 2009) sedangkan menurut Sarwono (2007) yang menyatakan bahwa banyak cara untuk mengatasi dysmenorrhoe diantaranya memberikan penjelasan kepada penderita, yaitu dysmenorrhoe merupakan gangguan yang tidak berbahaya bagi kesehatan, motivasi tentang makanan sehat, istirahat cukup, olahraga dan bisa juga diberikan psikoterapi.

1.2    Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis merumuskan masalah penelitian yaitu : “Bagaimanakah tingkat pengetahuan remaja putri mahasiswa AKPER Pemkab Ngawi Tingkat I tentang cara mengatasi dysmenorrhoe?”

1.3 Tujuan Penelitian

Mengidentifikasi tingkat pengetahuan remaja putri mahasiswa AKPER Pemkab Ngawi Tingkat I tentang cara mengatasi dysmenorrhoe.

1.4    Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Responden

Meningkatkan pengetahuan renaja putri dalam mengatasi nyeri haid

1.4.2 Bagi Profesi Keperawatan

Sebagai masukan profesi keperawatan dalam meningkatkan pengetahuan guna  mengembangkan asuhan keperawatan di masa yang akan datang.

1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan

Meningkatkan mutu pendidikan Akademi Keperawatan Pemkab Ngawi dan dapat digunakan sebagai bahan untuk penelitian di masa yang akan datang.

1.4.4 Bagi Peneliti

Peneliti mampu mengidentifikasi tingkat pengetahuan remaja putri dalam mengatasi nyeri saat dysmenorrhoe. Dengan penelitian ini peneliti dapat menambah pengetahuan tentang dysmenorrhoe yang telah dialami oleh remaja putri.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini penulis akan membahas tentang konsep yang menunjang dalam penelitian ini yaitu konsep pengetahuan, remaja, menstruasi dan dysmenorrhoe.

2.1   Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba (Notoadmodjo, 2007 : 139 -142)

2.1.1 Tingkatan pengetahuan

Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif memiliki 6 tingkatan, diantaranya adalah :

1.   Know (C1)

Tahu memiliki arti sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelum pada tingkat recall (mengingat kembali) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsang yang diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya

  1. Comprehension (C2)

Kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek.

yang diketahui dan menginterpretasikan materi tersebut secara benar

  1. Aplication (C3)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

  1. Analysis (C4)

Analisis adalah suatu kemampuan menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponennya, tetapi masih dalam struktur organisasi tersebut dan ada kaitannya satu sama lain.

  1. Synthesis (C5)

Sintesis menunjukkan pada kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.

  1. Evaluation (C6)

Evaluasi ini dikaitkan dengan kemampuan melakukan justifikasi suatu materi atau obyek.

2.1.2    Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan

1.  Pendidikan

Seseorang akan semakin mudah menerima informasi apabila memiliki pendidikan, semakin tinggi pendidikan yang dimiliki akan semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya. Sebaliknya, apabila pendidikannya kurang maka penghambat perkembangan sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan (Kuncoroningrat dalam Wahit, 2006).

2.  Pekerjaan

Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang-ulang dan banyak tantangan.

3.   Umur

Umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun

2.2    Remaja

Remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa kanak – kanak menuju masa dewasa yang ditandai adanya perubahan aspek fisik, psikis, dan sosial. Istilah remaja dalam bahasa latin disebut adolescentia yang berarti berkembang menjadi dewasa. Sementara Salzman mengemukakan, bahwa remaja merupakan masa perkembangan sikap tergantung (dependence) terhadap orang tua kearah kemandirian (independence), minat–minat seksual, perenungan diri dan perhatian terhadap nilai–nilai estetika dan isu–isu moral (Yusuf, 2006).

2.2.1    Pembagian Masa Remaja.

Menurut Yusuf (2006), Karena pertumbuhan yang cepat dari fisik, emosional, kognitif dan sosial yang terjadi selama masa remaja, adalah bermanfat untuk memisahkan periodenya dalam 3 masa perkembangan yaitu :

1.  Remaja Awal 12 – 15 Tahun  ( pra puber )

Dalam masa ini remaja suka mengamati dan ingin mengetahui tentang apa yang di lakukan oleh remaja yang lebih besar atau orang dewasa dengan jenis klamin yang sama dan berusaha untuk meniru mereka.

2    Remaja Madya 15 -18 Tahun ( pubertas )

Remaja pada tahap ini mulai membandingkan antar diri mereka dengan teman–teman sebayanya yang sejenis. Dalam tahap ini remaja sangat memperhatikan perkembangan dirinya, karena pada tahap ini bisa dikatakan masa pencarian jati diri.

3    Remaja Akhir 19 – 22 Tahun ( adolescentia )

Keinginan untuk meninggalkan rumah dan keluraganya meningkat selama remaja akhir. Pada masa ini remaja mengharapkan pendidikan yang lebih tinggi atau pekerjaan dengan tempat tinggal terpisah dengan sedikit keengganan untuk meninggalkan perlindungan rumah dan orang tua dan untuk berpisah dari teman-teman sebaya, lebih banyak pikiran dicurahkan pada pendidikan atau pekerjaan dimasa perkembangan remaja yang akan datang.

2.2.2  Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja.

Menurut Moersintowati (2002) pada masa remaja seorang individu akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan, yang akan di jelaskan sebagai berikut :

1.  Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau keseluruhan. Pertumbuhan bersifat kuantitatif sehingga dengan demikian dapat di ukur dengan menggunakan satuan panjang atau satuan berat. Ciri–ciri pertumbuhan diantaranya :

a.   Kecepatan pertumbuhan yang tidak teratur.

Kecepatan pertumbuhan mulai konsepsi sampai akhir masa remaja   tidaklah tetap, ada masa dimana pertumbuhan sangat pesat, yaitu masa prenatal, bayi dan masa remaja. Sedangkan setelah itu pertumbuhan akan semakin lambat.

b. Masing–masing organ memiliki pola pertumbuhan yang berbeda.

Pada umumnya pertumbuhan bagian–bagian tubuh mengikuti pertumbuhan tinggi badan utamanya tulang dan otot. Sedangkan organ tubuh tertentu tidak mengikuti pola pertumbuhan umum, tetapi mempunyai pola tersendiri. Organ–organ itu adalah otak dan tulang tengkorak, organ reproduksi dan jaringam limfoid.

2    Perkembangan

Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan struktu dan fungsi tubuh yang lebih kompleks perkembangan ini bersifat kualitatif yang pengukuranya jauh lebih sulit dari pada pertumbuhan. Perkembangan terjadi secara simultan dengan pertumbuhan. Perkembangan merupakan hasil interaksi kematangan susunan syaraf pusat dengan organ yang mempengaruhinya. Adapun ciri–ciri perkembangan antara lain :

a.   Perkembangan melibatkan perubahan.

Karena perkembangan terjadi bersamaan dengan pertumbuhan, maka setiap pertumbuhan disertai dengan perubahan fungsi. Perkembangan system reproduksi misalnya pasti akan disertai dengan perubahan organ kelamin. Perkembangan intelegensi menyertai pertumbuhan otak dan serabut syaraf.

b.   Perkembangan memiliki tahap yang berurutan.

Pada tahap ini dilalaui seseorang mengikuti pola yang teratur dan berurutan dan tahap-tahap ini tidak bisa terjadi terbalik.

c.   Perkembangan memiliki kecepatan yang berbeda.

Seperti halnya pertumbuhan, perkembangan berlangsung dalam kecepatan yang berbeda kaki dan tangan memiliki peerrkembangan yang yang pesat pada awal remaja, sedangkan bagian tubuh yang lain akan berkembang dengan pesat pada masa yang lain.

2.3    Menstruasi

Menstruasi ialah perdarahan secara periodik dan siklik uterus, disertai pelepasan endometryum (Sarwono, 2007).

2.3.1   Siklus Haid

Sarwono (2007) dalam Ilmu Kandungan menerangkan bahwa siklus menstruasi ialah jarak antara tanggal mulainya haid yang lalu dan mulainya haid berikutnya.i mulainya perdarahan dinamakan hari pertama siklus.

Lama haid biasanya antara 3-5 hari, ada yang 1-2 hari diikuti darah sedikit-sedikit dihari berikutnya dan ada yang 7-8 hari.

2.3.2   Gangguan Menstruasi

Beberapa gangguan menstruasi yang dialami wanita diantaranya adalah dysmenorrhoe, premenstrual tension, mastalgia, dan mittleschmerz.

Pada penelitian ini peneliti hanya membahas tentang dysmenorrhoe yang akan dibahas pada bab selanjutnya

2.4    Dysmenorrhoe

Dysmenorrhoe adalah nyeri haid menjelang atau selama haid, sampai membuat wanita tersebut tidak bekerja dan harus tidur. Nyeri ini bersamaan dengan rasa mual, sakit kepala, perasaan mau pingsan, lekas marah (Arief  Mansjoer, 2000 : 372).

2.4.1    Pembagian Dysmenorrhoe

Menurut Sarwono (2007) dysmenorrhoe dibagi atas :

1. Dysmenorrhoe Primer

Dysmenorrhoe primer adalah nyeri haid yang dijumpai tanpa kelainan pada alat-alat genital yang nyata. Dysmenorrhoe primer terjadi beberapa waktu setelah menarche (haid pertama kali) biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena siklus-siklus haid pada bulan-bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis anovulator yang tidak disertai dengan rasa nyeri. Rasa nyeri timbul tidak lama sebelumnya atau bersama-sama dengan permulaan haid dan berlangsung untuk beberapa jam walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung beberapa hari.

2.  Dysmenorrhoe Sekunder

Dysmenorrhoe sekunder adalah nyeri haid yang disebabkan oleh suatu kalainan ginekologik atau adanya penyakit. Misalnya, endometryosis, infeksi daerah panggul, tumor rahim, apendycsitis, kelainan organ pencernaan, bahkan kelainan ginjal. Dysmenorrhoe sekunder jarang dialami sebelum usia 25 tahun. Biasanya nyeri atau kram mulai 2 hari sebelum menstruasi yang berlangsung selama 2 hari atau lebih. Keluhan dysmenorrhoe akan meningkat pada wanita yang mengalami kegemukan, kurang nutrisi, peminum kopi, peminum alcohol, perokok, tidak aktif secara seksual, tidak pernah melahirkan, bisa juga dialami oleh wanita yang dalam keluarganya ada riwayat dysmenorrhoe.

2.4.2    Faktor-Faktor Penyebab

Menurut Sarwono (2007) faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya  dysmenorrhoe adalah :

1.  Faktor kejiwaan

Pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, hal ini akan mudah timbul dysmenorrhoe.

2.  Faktor konstitusi

Faktor ini, yang erat hubungannya dengan faktor kejiwaan, dapat juga menurunkan ketahanan terhadap rasa nyeri. Faktor-faktor seperti anemia, penyakit menahun dapat mempengaruhi timbulnya dysmenorrhoe.

3.  Faktor alergi

Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara dismonore dengan urtikaria, migraine atau asma bronchiale. Smith menduga bahwa sebab alergi ialah toksin haid. Penyelidikan dalam tahun-tahun trerakhir menunjukkan bahwa peningkatan kadar prostaglandin memegang peranan penting dalam etiologi dysmnorrhoe primer.

2.4.3    Tanda dan Gejala

Menurut Mansjoer  (2000 : 373)  tanda  dan  gejala dysmenorrhoe adalah :

1. Dysmenorrhe primer

  1. Usia lebih muda, maksimal usia 15-25 tahun
  2. Timbul setelah terjadinya siklus haid yang teratur
  3. Sering terjadi pada nulipara
  4. Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus dan spastik
  5. Nyeri timbul mendahului haid dan meningkat pada hari pertama atau kedua haid
  6. Tidak dijumpai keadaan patologi pelvic.
  7. Hanya terjadi pada siklus haid yang ovulatorik.
  8. Sering memberikan respon terhadap pengobatan medikamentosa.
  9. Pemeriksaan pelvic normal.
  10. Sering disertai nausea, muntah, kelelahan, nyeri kepala.

2.  Dysmenorrhoe sekunder

  1. Usia lebih tua, jarang sebelum usia 25 tahun.
  2. Cenderung timbul setelah 2 tahun siklus haid teratur.
  3. Tidak berhubngan dengan siklus paritas.
  4. Nyeri sering terasa terus menerus dan tumpul.
  5. Nyeri terjadi saat haid dan meningkat bersamaan dengan keluarnya darah.
  6. Berhubungan dengan kelainan pelvic.
  7. Tidak berhubungan dengan adanya ovulasi.
  8. Seringkali memerlukan tindakan operatif.
  9. Terdapat kelainan pelvic.

2.4.4    Penatalaksanaan

Menurut Sarwono (2007), penatalaksanaan yang dapat dilaksanakan untuk pasien dysmenorrhoe adalah :

1.  Penerangan dan nasihat

Perlu dijelaskan kepada penderita bahwa dysmenorrhoe adalah gangguan yang tidak berbahaya untuk kesehatan. Hendaknya diadakan penjelasan dan diskusi mengenai cara hidup, pekerjaan, kegiatan, dan lingkungan penderita. Kemungkinan salah informasi mengenai haid atau adanya tabu atau tahayul mengenai haid perlu dibicarakan. Nasihat-nasihat mengenai makanan sehat, istirahat yang cukup, dan olahraga mungkin berguna. Kadang-kadang diperlukan psikoterapi.

2.  Pemberian obat analgetik

Dewasa ini banyak beredar obat-obat analgetik yang dapat diberikan sebagai terapi simptomatik. Jika rasa nyerinya berat, diperlukan istirahat di tempat tidur dan kompres panas pada perut bawah untuk mengurangi rasa nyeri. Obat analgetik yang sering di berikan adalah preparat kombinasi aspirin, fenasetin, dan kafein. Obat-obat paten yang beredar di pasaran ialah antara lain novalgin, ponstan, acet-aminophen.

3.  Terapi hormonal

Tujuan terapi hormonal adalah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat sementara dengan maksud membuktikan bahwa gangguan benar-benar dysmenorrhoe primer, atau untuk memungkinkan penderita melaksanakan pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan. Tujuan ini dapat dicapai dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontasepsi.

4.  Terapi alternative

Sebagai tambahan pemakaian obat penawar sakit tanpa resep, ada banyak yang dapat anda lakukan sendiri untuk membantu mengurangi kram menstruasi, dan dengan sedikit percobaan, anda pasti dapat menemukan cara untuk membawa kelegaan. Suhu panas merupakan ramuan tua yaitu dapat dilakukan dengan kompres handuk panas atau botol air panas pada perut atau punggung bawah. Mandi air hangat juga bisa membantu.

Beberapa wanita mencapai keringanan melalui olahraga, yang tidak hanya mengurangi stress juga dapat membantu dengan mengurangi tegangan pada otot-otot pelvis sehingga membawa kekenduran dan rasa nyaman.

Beberapa posisi yoga dipercaya dapat menghilangkan dysmenorrhoe. Salah satunya adalah peregangan kucing, yang meliputi berada pada posisi merangkak kemudian secara perlahan menaikkan punggung anda keatas setinggi-tingginya.

2.5  Kerangka Konsep

Pengetahuan remaja putri tentang mengatasi dysmenorrhoe

Gambar 2.1:Kerangka Konsep Tingkat Pengetahuan Remaja Putri Mahasiswa

AKPER Pemkab Ngawi Tingkat 1 Tentang cara Mengatasi Dysmenorrhoe.

Keterangan :

: Diteliti

: Tidak diteliti


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:3.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} @page Section2 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-columns:2 even 36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section2 {page:Section2;} @page Section3 {size:612.0pt 792.0pt; margin:3.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section3 {page:Section3;} @page Section4 {size:612.0pt 792.0pt; margin:3.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-columns:2 even 36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section4 {page:Section4;} @page Section5 {size:612.0pt 792.0pt; margin:3.0cm 3.0cm 3.0cm 4.0cm; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section5 {page:Section5;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:604536170; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1344436146 1234200784 1376047826 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 {mso-level-tab-stop:111.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:111.0pt; text-indent:-21.0pt; mso-ascii-font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-hansi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:right; margin-left:144.0pt; text-indent:-9.0pt;} @list l1 {mso-list-id:625548563; mso-list-template-ids:542418302;} @list l1:level1 {mso-level-start-at:3; mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:24.0pt; text-indent:-24.0pt;} @list l1:level2 {mso-level-start-at:3; mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:42.0pt; text-indent:-24.0pt;} @list l1:level3 {mso-level-start-at:3; mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l1:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l1:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:126.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l1:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:144.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l1:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:180.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l1:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:198.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l1:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:234.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1236432572; mso-list-template-ids:-1456165052;} @list l2:level1 {mso-level-start-at:3; mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:21.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:21.0pt; text-indent:-21.0pt;} @list l2:level2 {mso-level-start-at:2; mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:21.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:21.0pt; text-indent:-21.0pt;} @list l2:level3 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l2:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:36.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l2:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:54.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:54.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l2:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l2:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:72.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l2:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:90.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:90.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l3 {mso-list-id:1590115507; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:298060296 1380760482 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; mso-ansi-font-style:normal;} @list l4 {mso-list-id:2056659402; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:1074180684 -1869580206 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l4:level1 {mso-level-start-at:2; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:144.0pt; text-indent:-18.0pt;} @list l5 {mso-list-id:2143427774; mso-list-template-ids:-1026774694;} @list l5:level1 {mso-level-start-at:3; mso-level-text:%1; mso-level-tab-stop:24.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:24.0pt; text-indent:-24.0pt;} @list l5:level2 {mso-level-start-at:5; mso-level-text:”%1\.%2″; mso-level-tab-stop:87.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:87.0pt; text-indent:-24.0pt;} @list l5:level3 {mso-level-start-at:2; mso-level-text:”%1\.%2\.%3″; mso-level-tab-stop:162.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:162.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l5:level4 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4″; mso-level-tab-stop:225.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:225.0pt; text-indent:-36.0pt;} @list l5:level5 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5″; mso-level-tab-stop:306.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:306.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l5:level6 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6″; mso-level-tab-stop:369.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:369.0pt; text-indent:-54.0pt;} @list l5:level7 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7″; mso-level-tab-stop:450.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:450.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l5:level8 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8″; mso-level-tab-stop:513.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:513.0pt; text-indent:-72.0pt;} @list l5:level9 {mso-level-text:”%1\.%2\.%3\.%4\.%5\.%6\.%7\.%8\.%9″; mso-level-tab-stop:594.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:594.0pt; text-indent:-90.0pt;} @list l6 {mso-list-id:2145074384; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:851852054 -740541300 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l6:level1 {mso-level-tab-stop:none; mso-level-number-position:left; margin-left:74.7pt; text-indent:-18.0pt;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1  Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif, penelitian deskriptif merupakan suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan (memaparkan) peristiwa-peristiwa urgen yang terjadi pada masa kini secara sistematik dan lebih menekankan pada data factual daripada penyimpulan (Nursalam, 2003)

Dalam penelitian ini peneliti mendeskripsikan mengenai pengetahuan remaja mengenai dysmenorrhoe.

3.2 Kerangka Kerja

Kerangka kerja (kerangka operasional) adalah langkah-langkah dalam aktifitas ilmiah, mulai dari penetapan populasi, sample, dan seterusnya, yaitu kegiatan yang dilaksanakan sejak awal penelitian  (Nursalam 2003)

Tingkat pengetahuan:

Baik, Cukup, Kurang

Alat pengumpulan data:

Kuesioner disebarkan kemudian di tabulasi

Populasi Mahasiswi AKPER Tingkat 1

Sampel adalah sebagian dari populasi yang memenuhi kriteria sampling

Sampling : Purposive Sampling

Desain penelitian :Deskriptif

Gambar 3.2 : Kerangka Kerja tingkat pengetahuan remaja putri mahasiswa AKPER Pemkab Ngawi Tingkat I tentang cara mengatasi dysmenorrhoe.

3.3 Populasi, Sampel dan Sampling

3.3.1 Populasi

Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti, bukan hanya objek atau subjek yang dipelajari saja tetapi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki subjek atau objek tersebut  (Notoadmodjo, 2005)

3.3.1    Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang dipilih dengan menyeleksi porsi dari populasi yang dapat mewakili criteria populasi (Nursalam, 2001)

Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah  mahasiswi AKPER Tingkat 1 dengan Kriteria;

1. Mahasiswi AKPER Tingkat 1

2. Berumur 19-22 tahun

3. Berada ditempat pada saat penelitian

4. Bersedia menjadi responden

Kemudian data yang diperoleh dimasukkan ke dalam rumus n

(Nursalam, 2003)


Keterangan :

N : Jumlah populasi

n : Ukuran Sampel

d : Tingkat signifikan (0,0


3.3.3 Sampling

Sampling  adalah suatu proses seleksi sampel yang digunakan dalam penelitian dari populasi yang ada (Azis, 2007)

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan purposive sampling yaitu cara pengambilan sampel dengan memilih sampel diantara populasi sesuai yang dikehendaki peneliti

(Nursalam, 2003)

3.4 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional

3.4.1  Identifikasi Variabel

Variabel adalah karakterisik yang diamati yang memiliki variasi nilai dan merupakan operasionalisasi dari suatu konsep agar diteliti secara empiris atau ditentukan tingkatnya (Setiadi, 2007)

Variabel dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan remaja putri mahasiswa AKPER Pemkab Ngawi Tingkat I tentang cara mengatasi dysmenorrhoe.

3.4.2  Definisi operasional

Definisi operasional adalah unsur penelitian yang menjelaskan bagaimana cara menentukan variabel dan mengukur suatu variabel, sehingga definisi operasional ini merupakan suatu informasi ilmiah yang akan membantu penelitian lain yang ingin menggunakan variabel yang sama

Di dalam definisi operasional terdapat beberapa point penting yang perlu dicantumkan untuk memudahkan dalam membaca penelitian yang akan dilakukan, point penting tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini

Tabel : 1.3 Definisi Operasional

Variabel

Definisi Operasional

Parameter

Skala

Skor

Pengetahuan remaja putri mahasiswa AKPER Pemkab Ngawi Tingkat I tentang cara mengatasi dysmenorrhoe

Pengetahuan, segala sesuatu yang diketahui dan dipahami responden tentang mengatasi dysmenorrhoe yang merupakan nyeri haid menjelang atau selama haid, sampai membuat wanita tersebut tidak bekerja dan harus tidur. Nyeri ini bersamaan dengan rasa mual, sakit kepala, perasaan mau pingsan, lekas marah

Kuesioner

Ordinal

1 : benar

0 : Salah

Teknik penilaian

76%-100% : baik

56%-75%: cukup

<55%     : kurang

3.5 Pengumpulan Data dan Analisa Data

3.5.1   Pengumpulan data

1.  Proses pengumpulan data

Di dalam pengumpulan pada data penelitian ini digunakan alat berupa angket atau kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dari responden.

Jenis kuesioner yang digunakan adalah tertutup, yaitu dengan cara mengedarkan suatu daftar pertanyaan yang digunakan secara tertulis dimana responden tinggal memilih jawaban yang tersedia (Arikunto, 2006)

Dalam penelitian ini tehnik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara memohon ijin pada responden, responden mengisi lembar persetujuan untuk menjadi responden, memberi penjelasanpada responden tentang pengisian kuesioner, responden ditunggui saat pengisian kuesioner.

2. Instrumen penelitian

Instrumen adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga mudah diolah. Jenis instrumen yang digunakan adalah angket atau kuesioner tertutup dimana responden tinggal memilih jawaban yang disediakan (Arikunto, 2006)

3.5.2 Tempat dan waktu

1. Tempat penelitian

Tempat penelitian adalah di kampus Akademi Keperawatan PEMKAB Ngawi

2. Waktu penelitian

Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2010

3.5.3 Analisa Data

1. Editing

Dimaksudkan untuk melihat apakah data yang diperoleh sudah terisi lengkap atau masih kurang.

2. Coding

Mengklasifikasikan jawaban dari responden menurut macamnya dengan memberi kode pada masing-masing jawaban menurut item dalam lembar kuesioner

3. Scoring

Menentukan skor atau nilai terendah dan tertinggi

4. Tabulating

Kegiatan untuk meringkas data yang masuk ke dalam tabel-tabel yang telah dipersiapkan proses tabulasi meliputi, pertama persiapan tabel dengan kolom dan baris yang disusun dengan cermat sesuai kebutuhan. Kedua, menghitung frekuensi ntuk setiap kategori jawaban dan ketiga, menyusun distribusi frekuensi dengan tujuan agar data yang telah disusun rapi mudah dibaca dan dianalisa.

Menurut Arikunto (2002) untuk penyajian data variabel secara umum dan biodata atau karakteristik responden, analisa dengan frekuensi jawaban dibanding dengan jumlah responden yang kemudian dikalikan 100% dari hasil prosentase.

Dengan menggunakan rumus :


Keterangan :

: Frekuensi jawaban

N          : Jawaban responden

P          : Prosentase


Adapun hasil pengolahan data diinterpretasikan menggunakan skala :

76%-100%       : baik

56%-75%         : cukup

<55%                : kurang

3.6    Etika penelitian

Pada pelaksanaan penelitian ini, pemeliti mengajukan permohonan izin kepada calon responden untuk menjadi responden, setelah calon responden setuju maka kuesioner disebarkan kepada respon dengan memperhatikan kode etik penelitian

1. Informed concent ( lembar persetujuan menjadi responden)

Tujuannnya adalah agar calon responden mengetahui maksud dan tujuan penelitian. Jika calon responden bersedia diteliti maka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika calon responden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa. (Hidayat, 2002)

2. Anonimity (tanpa nama)

Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan nama respondenpada lembar persetujuan tersebut, hanya diberi nomer kode pada kode tertentu (Nursalam, 2001)

3. Confidentially (Kerahasiaan)

Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden akan dijamin oleh peneliti (Nursalam, 2001)

3.6 Keterbatasan

Keterbatasan adalah kelemahan atau hambatan dalam penelitian. Dalam penelitian ini keterbatasan yang dihadapi adalah:

Instrumen mengumpulkan data menggunakan kuesioner yag dirancang peneliti sendiri dengan keterbatasan waktu, dana dan tenaga sehingga kemungkinan hasil ini kurang sempurna.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: